35mm FULL FRAME motion picture dan 35mm FULL FRAME dalam fotografi

canon_sensor

Seperti pada Judul BLOG kali ini, semoga tema pembahasan yg akan saya bagikan hari ini akan banyak mengundang rasa keingin tahuan yang lebih dalam  dari kawan kawan pengguna, hooby, maupun pelaku usaha di bidang Video. Banyak pendapat yang beredar dan sering kita dengar bahwa BIGGER is BETTER dalam urusan SENSOR di kamera. Pendapat / opini masing masing tentunya bebas aja sesuai dengan seleranya, namun sebetulnya ada beberapa hal teknis yang mendasari hal ini.

  1. Apakah sebuah kamera yang memiliki sensor FULL FRAME pasti memiliki kualitas gambar yang lebih baik dalam penggunaannya untuk video? untuk menjelaskan hal ini saya akan memberikan link video di Youtube dari channel FILMMAKER IQ dengan judul The Science of Camera Sensors. Di 13 menit video ini dijelaskan perkembangan teknologi dari sebuah media penangkap gambar ( dahulu berupa media film yang bereaksi secara kimiawi saat permukaannya terpapar cahaya – sampai dengan perkembangan saat ini media pengganti film tersebut yang dinamakan dengan SENSOR dalam berbagai jenis ( CCD, CMOS ). Bagi yang mungkin kurang tertarik dengan penjelasan yang terlalu teknis dari link di atas, saya mencoba mengulasnya secara pribadi. Sensor adalah media penangkap cahaya berupa rangkaian elektronis yang peka terhadap cahaya. Semakin besar ukuran sensor, maka bidang yang akan terkena cahaya akan semakin banyak. Apakah hal ini membuat gambar akan lebih baik? Belum tentu!, Seiring dengan perkembangan Teknologi, saat ini SENSOR pun memiliki bermacam jenis yang dibuat sesuai peruntukkannya . Sebuah gambar tidak muncul hanya dari sensor saja, tapi ada sangat banyak rangkaian system yang mempengaruhinya. Di era digital ini, semua peralatan elektronis selalu memiliki (processor) sebut saja begitu atau dapat kita ibaratkan Otak kita, sedangkan SENSOR tersebut adalah MATA kita. Processor / pengolah data ini sangat berpengaruh juga dengan hasil kamera tersebut. Masih ada juga sistem software yang dikembangkan berbeda beda pada tiap produsen kamera.
  2. Saat ini banyak kamera fotografi dibekali teknologi untuk merekam gambar video ( hybird ), Sama ga sih pengertian dari FULL FRAME kamera foto dan MOTION PICTURE kamera? check WIKIPEDIA . dan link dari Michael The Maven . Jadi pemilihan kamera sebenarnya sesuaikan dengan kebutuhan kita . Jangan terjebak oleh “kata” orang dan gimmick marketing dari para produsen kamera, Teknologi akan terus berkembang.

Saya pribadi lebih memilih dedicated video camera disaat hampir 95% dari pelaku video saat ini memilih menggunakan kamera foto yang dapat merekam video. Mengapa?

  • Saat mulai muncul pada sekitar tahun 2008 ( canon 5DII ) bagaikan jamur di musim hujan. Industri video berkembang pesat, Sebenarnya 5DII bukanlah DSLR kamera yang pertama kali yang dapat melakukan perekaman video. Pada awalnya penggunaan jenis kamera ini belum bisa diterima di pasar lokal kita. Sebagai contoh di pasar Wedding Video, saat itu ketika kita merekam video dengan 5DII sering mendapatkan pertanyaan. ( kamu foto atau video sih???, sering kali pada saat shooting beberapa orang meminta tolong, eh…tolong fotoin donk..). Secara tampak mata, perbedaan dengan teknologi camcoder saat itu kualitas dari kamera hybird jenis baru ini memang sangat jauh berbeda, tidak lama setelah itu pasar mulai mengerti dan saat ini malah pertanyaannya jadi lain… eh, ada yang package DSLR ga ya? . Hal ini tentunya sudah sering kita jumpai bagi pemain di industri ini.Namun hal yang membuat saya berpindah lagi ke dedicated video camera dari DSLR adalah:
  • Kamera kamera DSLR dibuat sebagai kamera FOTOGRAFI, saat ini, fitur VIDEO adalah bonus. sistem mekanis dan pengolahan datanya berbeda dengan dedicated video camera. Fitur, Penggunaan, Daya Tahan , dan Faktor XX nya bukan sepenuhnya untuk mengambil gambar video.the_fs5_uses_the_same_sensor_as_the_excellent_fs7
  • Sebagai salah satu contohnya adalah Fitur ND FILTER yang memungkinkan kita mendpatkan gambar dengan shutter speed 1/50  atau 1/100 di bukaan lensa besar seperti f 1.4 contohnya. Penggunaan shutter speed bukanlah HANYA untuk mengkompensasi cahaya saja, penggunaan shutter speed tinggi sampai 1/2000, 1/4000 akan menghasilkan gambar yang memiliki tensi tinggi ( cocok untuk adegan adegan gerakan cepat ato scene yang membutuhkan feel yang tegang. TIDAK dapat mewakili sebuah scene DREAMY look yang luwes dan smooth gerakannya. NOTE: SHUTTER SPEED ≠ HIGH FRAME RATE. Memang secara teori bisa saja menempatkan ND filter screw in di lensa, tapi prakteknya ( sudah beli tapi lupa bawa, dan saat shoot sudah ribet dan tidak sempat menggunakannya ).
  • Daya tahan: Kamera DSLR dibuat seringkas mungkin supaya memiliki foot print yang kecil, Tidak mungkin kita berharap memiliki daya tahan yang baik dari segi battery contohnya.Sensor kamera fotografi tidak didesain memiliki pendingin yang cukup untuk mendinginkan sensornya supaya selalu pada suhu optimal. Saat kondisi Sensor panas/ overheat, akan banyak berpengaruh pada gambar yang dihasilkan… ( gejala paling umum adalah NOISE gambar yang tiba tiba tampak jelas, ataupun yang lebih mengkhawatirkan ketika ( Overheat ) dan kamera memutuskan untuk shutting down ). Gejala berikutnya adalah matinya sensor sensor tersebut atau lebih dikenal dengan istilah death pixel.
  • Faktor XX :  faktor ini adalah pendapat pribadi aja sih sebenarnya… kalo ” menurut saya” adanya XLR audio connection, HD-SDI OUT, Sistem CODEC, serta sistem kedalaman warna 10-bit pada file yang dihasilkan,  sangat berguna pada project video yang saya kerjakan. 8_bit_vs_10_bit_display
  • Faktor berikut adalah penggunaannya. USE RIGHT TOOLS for RIGHT JOB. Sebagai perumpamaan  memang kita bisa saja   menggali tanah dengan sebuah sendok makan. Tetapi ada alat lain yang lebih proper untuk menggali tanah dengan cangkul misalnya.Tapi perlu diingat juga tidak perlu kita membunuh seekor lalat dengan sebuah TANK!. Disaat tertentu dimana ” permisi pak sudah ada ijinnya untuk shooting disini ” sudah sangat jamak di kalangan kita, saya menggunakan kamera foto yang dapat merekam video, karena lebih mudah untuk blending dengan keadaan dan tidak terkesan BIG BUDGET PRODUCTION. Sesuaikan dengan bidang yang kita kerjakan. Bidang video akan sangat berkembang di kemudian hari,  jika kita memiliki misi ke depan untuk berkarya di LIGA berbeda dari saat ini, pertimbangkan hal ini. Tidak ada yang salah dengan pilihan kawan kawan semua dalam penggunaan equipment untuk berkarya. yang mungkin berbeda adalah keadaan, tujuan dan dedikasi.

Semoga tulisan ini dapat memberikan inspirasi bagi kawan semua.

Salam – PAULUS RIZAL


2 thoughts on “35mm FULL FRAME motion picture dan 35mm FULL FRAME dalam fotografi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s